Senin, 16 Januari 2012

SUNGGUH ROH TELAH MENYAKSIKAN

Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
Saya bersaksi bahwa tiada (Tuhan) selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul / utusan Allah.
Kalimat syahadatain adalah kalimatul haq, sebuah kalimat yang apabila setiap manusia di muka bumi mengucapkannya dengan ikhlas maka akan mampu mengubah wajah dunia. Syahadatain mampu mengubah seluruh manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya. Perubahan itu juga meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu, masyarakat bahkan bangsa.


Orang mukmin senantiasa menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan.
Mungkin ada sebahagian dari kita bertanya mengapa kalimat syahadat berbunyi menyaksikan? memang apakah atau kapan kita telah melihat Tuhan atau Rasul?


Ketahuilah bahwa sebelum ruh kita sebelum ditiupkan ke dalam janin (jabang bayi), ruh kita sudah pernah berdialog dengan Allah swt dalam suatu perjanjian yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya, sebab janji itu pasti akan ditagih kelak di akhirat.
Allah swt bertanya kepada ruh : ”Bukankah Aku ini Tuhanmu”
Roh menjawab : ”Benar!, Kami telah menyaksikan”



Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:
”Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Tuhan mengambil kesaksian terhadap ruh mereka sendiri (sebelum di tiupkan kedalam janin), ”Bukankah Aku ini Tuhanmu? ”Mereka (roh manusia) menjawab: ”Benar (Engkau Tuhan kami), kami telah bersaksi” (Kami lakukan yg demikian itu) agar nanti di hari Qiamat kamu tidak mengatakan: bahwa, ”sesungguhnya kami lalaterhadap hal ini" (QS Al-A’raf [7] : 172).


Peristiwa inilah yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai ”Abdullah” perjanjian ”Ketuhanan” antara Allah swt dengan manusia dan sebaliknya. Perjanjian ketuhanan yang kemudian terlukis dalam tiap-tiap jiwa manusia, sebagai ukuran dasar rohaniyah, yang membawa lahir ke alam terang ini sebagai fitrah. 


Hal ini diingatkan kembali ketika kita berada di dunia fana ini, yaitu :
”Dan sungguh, mereka sebelum itu (sebelum ruh ditiupkan ke dlam janin) telah berjanji kepada Allah tidak akan berbalik kebelakang (mundur). Dan perjanjian dengan Allah itu akan diminta pertanggung jawabannya” (QS Al-Ahzab [33] : 15)
Dan 
”(yaitu) Orang yang memenuhi perjanjian Allah dan tidak melanggar perjanjian” QS Ar-Ra’d [13] : 20)

Sekarang, jelaslah bagi kita bahwa kita memang sudah pernah mengadakan perjanjian dengan Tuhan, Perjanjian ini diadakan sewaktu ruh kita dalam alam ruh, sebelum ditiupkan ke dalam jasmaninya. 

Namun ketika Ruh telah bersatu dengan Jasmani sehingga Jiwa timbul karenanya, maka setelah manusia telah mengenal dunia, maka banyak manusia telah tertipu oleh dunia lewat kesenangan-kesenangan semu, dan lupa akan janjinya dengan Allah swt, 
sebagaimana firmanNya:
“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al- Hadid [57] : 20).

Lalu siapakah manusia yang selamat dan menepati janjinya dengan Allah swt?

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari Kiamat?” Rasulullah saw. bersabda, “Aku telah mengira, ya Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah yang mengatakan la ilaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (Bukhari).


SUMBER : berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar